Update

Dosen UB Bagikan Cara Kelola Stres Hadapi UTBK

Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) di Universitas Brawijaya. Foto: Humas UB 

Ujian Tulis Berbasis Komputer-Seleksi Nasional Berbasis Tes (UTBK-SNBT) tak hanya menjadi ujian kemampuan akademik, tetapi juga menguji kesiapan mental peserta. Tekanan menjelang hingga setelah ujian kerap memicu stres dan kecemasan.

Peserta UTBK di Universitas Brawijaya (UB), Melkior Natanael, mengaku tetap merasakan tekanan meski telah melakukan persiapan matang. Menurutnya, hasil tryout yang belum memuaskan sempat memicu kegelisahan dan membuatnya memforsir waktu belajar.

“Setelah melihat hasil tryout, saya menjadi gelisah karena kurang puas dengan hasilnya. Hal ini membuat saya semakin memaksa diri untuk lebih rajin belajar,” ujarnya, Rabu (22/4/2026).

Peserta lain, Fika, mengaku kecemasan juga muncul setelah ujian selesai. Ia masih dihantui kekhawatiran terhadap hasil seleksi meski di sisi lain merasa lega usai menyelesaikan UTBK.

Dosen Psikologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB Dr. Sumi Lestari, S.Psi., M.Si menjelaskan stres yang dialami peserta merupakan hal wajar karena berkaitan dengan besarnya harapan untuk masuk perguruan tinggi impian.

Menurutnya, dalam psikologi terdapat dua jenis stres, yakni eustress atau stres konstruktif yang dapat memotivasi seseorang untuk mempersiapkan diri lebih baik, serta distress atau stres destruktif yang justru merusak karena memicu tekanan berlebihan.

“Dalam konteks UTBK, perlu dihindari stres yang bersifat destruktif, karena ketakutan akan kegagalan yang terlalu berlebihan dapat merugikan diri sendiri,” ujarnya.

Ia menjelaskan stres destruktif dapat memicu stres performa, yaitu kondisi saat individu cenderung merendahkan diri sendiri, membandingkan kemampuan dengan orang lain, hingga melupakan kebutuhan dasar seperti istirahat dan makan karena terlalu memforsir belajar.

Menurut Dr. Sumi, kebiasaan overthinking juga menjadi tanda stres destruktif yang perlu dikendalikan. Salah satu caranya dengan meyakinkan diri atas kemampuan yang telah dipersiapkan serta melakukan evaluasi realistis terhadap kekurangan yang masih bisa diperbaiki.

Ia juga mengingatkan pentingnya menetapkan ekspektasi sesuai kemampuan agar terhindar dari self-criticism atau kecenderungan mengkritik diri sendiri secara berlebihan.

Untuk menjaga kesehatan mental saat menghadapi UTBK, Dr. Sumi membagikan tiga strategi. Pertama, strategi kognitif, yakni mengelola pikiran agar tetap rasional dan tidak dikuasai asumsi negatif.

“Berpikirlah positif agar perilaku yang tampak pun positif,” katanya.

Strategi kedua adalah regulasi emosi, yakni kemampuan mengontrol emosi agar tetap tenang dan fokus, terutama saat mengerjakan soal ujian.

Adapun strategi ketiga adalah strategi perilaku melalui manajemen waktu belajar yang tepat. Persiapan, menurutnya, sebaiknya dilakukan jauh hari agar menjelang ujian peserta dapat memberi ruang untuk beristirahat dan menenangkan diri.

Ia menekankan istirahat cukup juga penting agar materi yang dipelajari tersimpan lebih optimal dalam memori jangka panjang.

Lebih lanjut, Dr. Sumi mengingatkan hasil UTBK bukan satu-satunya penentu masa depan. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diukur dari satu ujian, tetapi juga dari kemampuan untuk terus bangkit dan berusaha.

“Tetaplah optimis dan percaya bahwa usaha yang dilakukan tidak akan sia-sia. Jika hasilnya belum sesuai harapan, bukan berarti segalanya berakhir. Masih banyak jalan dan kesempatan lain yang dapat ditempuh,” tuturnya.

Sumber: Humas Universitas Brawijaya

Posting Komentar